AmperaBlitz.com | OGAN KOMERING ILIR – Upaya mitigasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Provinsi Sumatera Selatan kini memasuki era baru yang lebih modern.
Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) resmi terpilih menjadi lokasi pusat pendidikan dan manajemen karhutla pertama di Indonesia.
Kehadiran fasilitas mutakhir berupa Forest Fire Management Center yang dilengkapi dengan Command Center ini merupakan hasil nyata dari kolaborasi strategis antara Kementerian Kehutanan Republik Indonesia dan Korea Forest Service melalui Korea-Indonesia Forest Cooperation Center.
Fasilitas modern tersebut dibangun di Area Kantor Manggala Agni Daops XVII/OKI di Kecamatan Kayu Agung.
Momentum bersejarah ini juga disinergikan dengan agenda Global Volunteer Week 2026, sebuah aksi nyata tahunan yang diinisiasi oleh Posco International.
Melalui komitmen jangka panjangnya di Indonesia, Posco International yang kini telah memperkuat posisinya di sektor agribisnis pasca mengakuisisi Sampoerna Agro Group dan mengubah namanya menjadi PT Prime Agri Resources (PT PAR) turut ambil bagian mendukung penuh terciptanya ekosistem pencegahan karhutla yang tangguh di wilayah Sumatera Selatan.
Kepala Biro Humas dan Kerjasama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Dr. Ristianto Pribadi S.Hut, M.Tourism menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas di kawasan Manggala Agni Daops XVII/OKI ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Menteri Kehutanan RI ke Korea Selatan pada April lalu.
“Kerjasama dengan pemerintah Korea sudah berlangsung panjang. Salah satunya hari ini, kita di OKI memiliki pusat pendidikan kebakaran hutan dan lahan yang pertama di Indonesia. Fasilitas ini disiapkan menjadi Center of Excellence (pusat keunggulan) untuk menggembleng kesiapan para personel di lapangan,” ujar Ristianto saat memberikan keterangan pada Senin (8/6/2026) siang.
Menurutnya Kabupaten OKI dipilih sebagai lokasi ke-7 dari proyek strategis kerjasama ini berdasarkan evaluasi mendalam dari proyek restorasi gambut di Jambi pada 2015 dan 2019 yang sempat hangus kembali akibat kebakaran.
Projects Manager Korea-Indonesia Forest Cooperation Center, Kim Hyoung Gyun, menegaskan fokus utama lembaga ini kini bergeser langsung pada manajemen kebakaran hutan (Forest Fire Management).
Proyek yang didukung anggaran hingga tahun 2030 ini tidak hanya mendirikan bangunan fisik, namun menyasar esensi penanggulangan karhutla melalui 4 fokus utama.
“Pusat ini memiliki gedung khusus yang didedikasikan untuk tempat pelatihan para petugas. Nantinya setiap daerah operasi (Daops) di Sumatera mengirimkan dua hingga tiga orang perwakilannya untuk dilatih secara khusus di OKI,”
“Setelah dibekali ilmu, mereka akan kembali ke Daops masing-masing untuk menjadi pelatih (trainer) bagi anggota lainnya,” ungkapnya.

Bukan hanya itu saja, Kim mengaku proyek ini menyalurkan bantuan barang dari Korsel dan Indonesia seperti pompa air, seragam, cangkul, hingga alat pelindung diri.
Menariknya, karena banyak kendaraan operasional (motor dan mobil) di lapangan yang rusak, pusat ini juga memberikan bantuan suku cadang (spare parts) sekaligus pelatihan pemeliharaan (maintenance) agar petugas bisa memperbaiki kendaraannya sendiri.
“Mengatasi informasi sebelumnya sering tidak tepat, pusat ini mengumpulkan seluruh laporan dari lapangan ke satu titik terpusat,”
“Hal ini sangat memudahkan para pengambil keputusan (direktur atau komandan) untuk mengatur jumlah personel, pergerakan barang, hingga distribusi dana secara cepat dan efisien,” terang Kim.
Lebih dari 90 persen kasus karhutla di Indonesia dipicu oleh aktivitas manusia, terutama pembukaan lahan (land clearing). Merespons hal tersebut, Direktur Regional Sumatra PT Prime Agri Resources (PT PAR), Ir. H. Eldi Nuzan, menyambut antusias kehadiran teknologi Command Center yang mampu memantau titik panas (hotspot) secara real-time hingga mendeteksi koordinat desa atau konsesi perusahaan secara detail.
Sebagai bagian dari komitmen Posco International dalam Global Volunteer Week 2026, PT PAR memastikan kesiapan internal menghadapi musim kemarau telah terpenuhi 100 persen sesuai regulasi pemerintah (Permentan), mencakup kesiapan embung air, menara pantau, hingga alat pemadam yang rutin diawasi secara berkala oleh pemerintah dan juga Polres dan Polsek setempat.
Di sisi pemberdayaan masyarakat, PT PAR aktif menggerakkan program Corporate Social Responsibility (CSR) berbasis lingkungan.
“Kami memiliki 25 Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) yang tersebar di desa binaan CSR kita. Mereka kita edukasi, bantuan peralatan, dan pelatihan. Kolaborasi nyata dengan Manggala Agni, TNI, Polri, dan Pemda OKI benar-benar tercipta demi mencegah Karhutla sedini mungkin,” pungkas Eldi.
Melalui integrasi teknologi canggih dari Korea Selatan, komitmen investasi hijau dari Posco International (PT PAR), serta kesiapsiagaan masyarakat, mitigasi Karhutla di Sumatera Selatan kini optimistis bergerak dari tindakan responsif menuju pencegahan dini yang berkelanjutan.

















