AmperaBlitz.com, Ogan Komering Ilir – Kelangkaan solar bersubsidi di jalur lintas Sumatera, khususnya di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) sangat dikeluhkan para pengemudi.
Tak hanya mobil pribadi, sopir truk angkutan barang menjerit kesulitan untuk mendapatkan bahan bakar.
Salah satu pengemudi truk muatan besar asal Kota Tangerang, Bayu merasakan dampak cukup parah.
“Saya mulai dari Jambi sampai ke Kramasan (Palembang) tadi masih tidak mendapatkan solar,” ujar Bayu ditemui Tribunsumsel.com di SPBU Kayuagung pada Selasa (11/11/2025) siang.
Bayu yang hendak pulang ke Banten (Tangerang), mengaku sudah tak terhitung jumlah SPBU dimasuki.
“Hari ini sudah lebih dari 10 SPBU saya datangi, kosong semua. Termasuk di SPBU Kayuagung juga nggak ada,” keluhnya dengan nada pasrah.
Akibat kelangkaan tersebut, Bayu terpaksa mengandalkan solusi darurat agar bisa tetap melanjutkan perjalanan. Terpaksa membeli solar eceran yang dijual memakai jeriken, meski harganya mungkin berbeda.
“Ini aja beli jerigen dijalan tadi,” ucapnya dengan nada kecewa.
Bayu menjelaskan, satu kali perjalanan, truk Isuzu Giga (B 9386 BIT) dibawanya butuhkan setidaknya 200 liter solar.
“Kadang mengisi 200 liter, kadang nggak sampai segitu,” tambahnya
Sebagai sopir yang menggantungkan hidup di jalan, Bayu berharap pemerintah pusat dan daerah segera turun tangan.
Menurutnya, kelangkaan solar subsidi ini bukan hanya masalah bagi sopir, tapi ancaman serius bagi kelancaran distribusi barang.
“Mudah-mudahan bisa lebih diperhatikan dalam masalah BBM. Soalnya, kita buat pengiriman logistik perlu solar,” tuturnya.

Hal senada diutarakan pengemudi mobil pribadi, Fery yang sedang berpergian bersama keluarganya.
“Sangat sulit dapat solar subsidi,” keluh Fery dari balik kemudi mobil.
Karena solar subsidi tidak tersedia, Fery terpaksa berkeliling dari satu SPBU ke SPBU lain dan terpaksa merogoh kocek jauh lebih dalam untuk membeli bahan bakar non-subsidi (Dexlite) agar bisa melanjutkan perjalanan.
“Terpaksa ngisi Dexlite, karena tidak ada solar,” jelasnya pasrah.
Iapun merinci perbedaan harga yang sangat signifikan dan memberatkan masyarakat kecil.
“Selisihnya jauh. Kalau solar Rp 6.800, ini (Dexlite) Rp 14.200. Biasanya sekali ngisi Rp 150.000 bisa dapat solar 22 liter. Ini hanya dapat 10 liter saja,” tegas Fery, harga lebih dari dua kali lipat cukup memukul anggaran perjalanannya.
Fery berharap pemerintah dapat segera mengatasi masalah ini. Menurutnya, ketersediaan bahan bakar sangat vital bagi mobilitas warga. Ia juga menduga ada masalah distribusi yang mungkin terhambat oleh infrastruktur.
“Harapan kita, minta pemerintah tuh cepatlah (ditangani). Kalau jalannya bagus, ‘pacak’ (bisa) minyak masuk ke sana (ke daerah kami),” tuturnya.

Teka-teki penyebab kelangkaan solar di Kabupaten OKI dibenarkan oleh pengurus SPBU 24.306.169 Kayuagung, Saudi Alvian.
Menurut Alvian pengiriman solar memang telah terhenti total selama satu minggu terakhir dan keadaan ini dikeluhkan para pengemudi.
“Memang benar dalam satu minggu ini SPBU di wilayah Ogan Komering Ilir, khususnya di wilayah Kecamatan Kota Kayuagung ini, tak ada pengiriman solar,” ujarnya.
Dikatakan Alvian, pihaknya telah proaktif menanyakan masalah ini langsung ke Sales Branch Manager (SBM) Pertamina. Jawabannya tegas kuota telah mencapai batas.
“Faktor dan penyebabnya itu saya sudah menanyakan dengan pihak SBM Pertamina, bahwasanya untuk kuota kita itu sudah habis,” urainya.
Dikatakan kembali, pihak Pertamina kini sedang berupaya menangani masalah ini di tingkat yang tinggi.
“Arahan dari SBM Pertamina, dia akan koordinasi dengan BPH Migas (Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi),” tambahnya.
Dalam kondisi normal, SPBU terima pasokan antara 16.000 liter (16 KL) hingga 24.000 liter (24 KL) per hari.
“Itu habis dalam satu hari. Kadang nggak nyampe satu hari habis,” ungkapnya, menggambarkan betapa vitalnya pasokan solar di wilayah tersebut.
Masih kata Alvian, kuota habis ini secara langsung berdampak pada sopir truk seperti Bayu dan sopir pribadi seperti Fery, yang terpaksa mengeluarkan biaya dua kali lipat untuk membeli Dexlite.
“Harapan saya, untuk Kabupaten OKI ini solar kembali normal seperti biasanya, supaya aktivitas masyarakat kembali lancar seperti biasanya,” pungkasnya.














