12.285 Personel dan 14 Helikopter Termasuk dari APP Group Sinarmas Kepung Karhutla Sumsel, Gempuran dari Langit Jadi Andalan

APP Group Sinarmas

Amperablitz.com | Ogan Komering Ilir – Belasan ribu personel gabungan dan belasan helikopter pengebom air (water bombing) dikerahkan habis-habisan untuk mengeroyok kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel).

Sulitnya lokasi titik api yang tak tertembus dari jalur darat, membuat Satgas Karhutla harus melancarkan gempuran dari langit demi menjinakkan kobaran api dan mencegah kabut asap.

Tercatat, ada sekitar 12.285 personel gabungan yang saat ini bersiaga dan berjibaku dalam Satgas Karhutla Sumsel. Mereka bergerak di bawah komando Satgas Operasi yang dipimpin Danrem 044/Garuda Dempo Brigjen TNI Khabib Mahfud.

Untuk operasi udara, TNI AU melalui Lanud Sri Mulyono Herlambang mengerahkan 8 helikopter. Kekuatan ini makin garang dengan tambahan 6 helikopter water bombing dari pihak swasta, yakni APP Group.

Komandan Lanud (Danlanud) Sri Mulyono Herlambang, Kolonel Pnb Asep Wahyu Wijaya mengatakan armada udara ujung tombak saat tim darat menemui jalan buntu.

“Alhamdulillah, keberadaan water bombing di Sumsel cukup. Ini sangat penting untuk menyirami lahan terbakar yang lokasinya jauh di dalam dan tidak bisa ditembus satgas darat, apalagi jika jauh dari sumber air,” ujar Asep saat dikonfirmasi Jumat (25/9/2026).

Kolaborasi dengan pihak swasta pun dinilai sangat mulus. Setiap helikopter APP Group yang mengudara selalu berkoordinasi ketat dengan Satgas untuk memonitor pergerakan.

Menariknya, helikopter ini tidak hanya bertugas mematikan titik api. Ribuan liter air diguyur membasahi area di sekitar lokasi kebakaran.

Tujuannya memblokir laju api agar tidak merembet ke permukiman masyarakat, perkebunan warga, hingga kawasan Suaka Margasatwa (SM) Padang Sugihan.

Namun, operasi udara bukan tanpa kendala. Jauhnya sumber air kerap menjadi tantangan.

Tak kehabisan akal, saat melakukan patroli udara bersama Gubernur Sumsel dan Bupati OKI, tim memetakan sungai, danau, embung, hingga kanal buatan yang bisa disedot airnya.

Salah satunya, tim menemukan kanal strategis di areal konsesi APP Group.

“Kita melihat ada parit di antara lahan tanaman yang bisa menjadi sumber air. Kita minta akses pengambilan airnya diperluas agar helikopter mudah menggunakan Bambi Bucket. Respons APP Group sangat baik, sehingga kita punya tambahan sumber air,” papar Asep.

Selain mengerahkan helikopter, APP Group juga menyuplai amunisi untuk tim darat. Mulai dari pompa air, sambunesia, hingga perlengkapan pemadaman lainnya. Sesuai komitmen, mereka wajib menjaga radius 5 kilometer dari batas konsesi perusahaannya.

Di sisi lain, upaya jalur langit juga ditempuh lewat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) alias hujan buatan.

Menurut Asep, operasi menebar garam di awan ini sudah digeber sejak awal musim kemarau dan terus diintensifkan. Hasilnya cukup melegakan, dalam beberapa hari terakhir hujan intensitas ringan hingga sedang mulai membasahi sejumlah wilayah Sumsel.

Kini, kombinasi gempuran darat, water bombing, hujan buatan, hingga tim penyuluh yang blusukan mengedukasi warga, menjadi benteng utama Sumsel.

Kolaborasi raksasa ini diharapkan mampu meredam amukan api dan menyelamatkan langit Sumsel dari kepungan asap selama puncak musim kemarau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *