AmperaBlitz.com | OGAN KOMERING ILIR – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Sumatera Selatan, khususnya di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) kembali menjadi atensi penuh.
Mengantisipasi puncak kemarau yang diprediksi bergeser, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumsel bersama jajaran terkait mulai memanaskan mesin kesiapsiagaan di lapangan.
Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengungkapkan berdasarkan rilis terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terdapat perubahan prediksi puncak musim kemarau tahun 2026 ini.
“Puncaknya pada bulan Agustus dan September. Awalnya diprediksi Juli-Agustus, tapi ada perubahan,”
Meski begitu, upaya dari Provinsi dan Kabupaten sudah dilaksanakan, salah satunya menetapkan status siaga karhutla yang ditandatangani oleh Gubernur dan Bupati,” ungkap Sudirman saat diwawancarai disela kegiatan simulasi di Manggala Agni OKI pada Kamis (4/6/2026) siang.
Lebih lanjut, Sudirman menegaskan Kabupaten OKI mendapat perhatian ekstra karena topografinya.
Dikarenakan OKI merupakan salah satu wilayah yang memiliki lahan gambut terluas di Sumatera Selatan. Oleh karena itu, simulasi dan apel teknis yang digelar khusus menyasar kesiapan personel dan peralatan untuk menanggulangi Karhutla di Bumi Bende Seguguk.
“Apabila terjadi kebakaran, teman-teman sudah siap. Namun, kita tetap dalam koridor kerja sama dengan Manggala Agni yang memang memiliki tugas pokok di sana. Kami dari BPBD Kabupaten dan Provinsi Sumsel siap membantu peralatan dan personel jika kebakaran meluas,” tegasnya.

Nantinya, pihak Kabupaten OKI juga akan mendirikan posko-posko penanganan Karhutla yang tersebar hingga ke tingkat kecamatan dan desa-desa yang masuk dalam zona rawan kebakaran.
“Meskipun saat ini seluruh wilayah OKI masih terpantau aman dan belum ada peningkatan titik api (hotspot), kesiapsiagaan tidak boleh kendur,” sambungnya.
Terkait dukungan peralatan, Sudirman memastikan adanya suplai bantuan yang masif, baik dari APBD Provinsi maupun dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat. Bahkan saat apel gelar pasukan tingkat provinsi yang dipimpin Menko Polhukam beberapa waktu lalu, BPBD OKI mendapat bantuan peralatan dan kendaraan roda dua patroli darat.
Dalam upaya modifikasi cuaca atau teknologi modifikasi cuaca (TMC), Sudirman menyebut langkah tersebut sudah dilakukan.
“Di awal musim setelah apel, kita sudah melaksanakan 10 hari kegiatan TMC dari BNPB pusat dan itu berhasil. Potensi awan masih cukup. Nanti kita tunggu rilis BMKG dan petunjuk BNPB, apakah perlu dilaksanakan TMC lanjutan,” urainya
Menurutnya jika jalur darat tak lagi bisa diakses oleh personel gabungan (Manggala Agni, BPBD, TNI/Polri), satgas udara sudah disiagakan penuh. Saat ini, Provinsi Sumsel telah mendapat bantuan dua armada patroli udara (1 helikopter dan 1 pesawat) serta armada pemadam api dari udara.
“Water bombing, kita sudah siaga 3 helikopter. Rencananya di tanggal 6 nanti akan ada bantuan 1 unit dari BNPB. Jadi total pertengahan Juni ada 4 helikopter water bombing,”
“Jumlah ini bisa bertambah melihat skala prioritas jika kebakaran yang terjadi cukup luas,” terang dia.

Sementara itu Plt Kepala BPBD OKI, Nova Triyussanto menyatakan dalam simulasi yang dilaksanakan kali ini, pihaknya menerjunkan puluhan personel gabungan yang juga melibatkan menyertakan keterwakilan gender.
“Untuk kegiatan hari ini, dalam rangka simulasi peningkatan kapasitas SDM bagi Satgas BPBD, kami melibatkan 20 orang personel. Mereka terdiri dari 14 orang laki-laki dan 6 orang perempuan,” ujar Nova.
Nova menjelaskan, alasan kuat di balik pelibatan personel perempuan ini untuk memenuhi kebutuhan taktis di lapangan yang mungkin pada masa-masa sebelumnya tidak sempat terpikirkan
Melalui momentum ini, BPBD OKI ingin menyetarakan kemampuan taktis seluruh personel tanpa memandang gender.
“Kita meningkatkan kemampuan SDM bagi perempuan agar mereka dalam menangani Karhutla dapat disejajarkan dengan para satgas laki-laki,” tegasnya.
Lebih lanjut, Nova memaparkan pelatihan peningkatan kapasitas ini dirancang secara komprehensif selama dua hari berturut-turut.
Hal ini bertujuan agar para personel tidak hanya matang secara pemahaman materi, tetapi tangkas berhadapan langsung dengan api.
“Hari pertama dilakukan dengan pemberian materi-materi di dalam ruangan (teori). Kemudian di hari kedua, dilanjutkan dengan materi-materi di lapangan (praktik),” urainya.
Dengan skema pelatihan tersebut, diharapkan seluruh Satgas BPBD OKI mengalami peningkatan pengetahuan yang merata, baik dari sisi konseptual maupun kemampuan teknis di medan karhutla yang sesungguhnya.
“Sehingga para satgas ini, baik secara teori maupun praktik, pengetahuan mereka meningkat dan bisa langsung diterapkan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan,” tambahnya.
Di akhir penyampaiannya, Nova menaruh harapan besar agar pelatihan intensif dapat melahirkan skuad satgas yang lebih responsif. Kemampuan manajerial risiko bencana di lapangan diharapkan makin terstruktur melalui pedoman operasional yang jelas.
“Harapannya, dengan peningkatan kapasitas ini, SDM Satgas BPBD Kabupaten OKI bisa lebih efektif dan lebih sigap dalam penanganan Karhutla. Serta, mereka dapat menggunakan TRC (tim reaksi cepat) sebagai pedoman dalam pelaksanaan penanggulangan bencana daerah,” pungkasnya.



















